Wujud Cinta Segitiga


Wujud Cinta Segitiga

Allah berkata kepada kanjeng nabi "Hai Muhammad, semesta dan seisinya ini milik siapa?"

Kanjeng nabi menjawab "Milikmu ya allah"

Kemudian "Engkau Milik siapa?"

Kanjeng nabi menjawab "Milikmu ya allah"

Lalu, Allah melanjutkan lagi, "Aku ini milik siapa?"

Kanjeng nabi diam terpaku dan tidak menjawab.

Maka dijawablah oleh allah sendiri,

"Aku ini miliknya orang yang mencintaimu"

"Aku ini miliknya orang yang tidak menghianatimu"

Jika hambamu, jika umatmu datang kepadaku tetapi tidak bersamamu, maka aku tidak menerimanya.

Jika hambaku mengaku mencintaiku tetapi tidak datang bersamamu, maka aku tidak akan membalas cintanya.

Tafsiran - Mari Berfikir


Kalau matahari bersinar, jangan mencoba menyalakan lampu.

Kalau sudah menaiki perahu, jangan mencoba untuk berenang.

Semesta ini adalah bagaikan perahu.

Engkau makan, engkau tidur, engkau bersendau-gurau, engkau merebutkan sesuatu, engkau beraktifitas di tengah bumi yg melayang dan berterbangan ini.

Maka ketika cinta memanggilmu, pasrahlah.

Pasrahmu bagai biola total yang di gesek dengan sesuka-suka.

Kalau engkau tak sepasrah biola, maka egomu yang akhir akan menjadi penghalang terhadap tuhan.

Maka cinta bahasa arabnya adalah islam.

Islam itu tidak sebatas agama, ia adalah system nilai.

Maka jika meminjam intro Ibnu Arabi, "jangan sebut aku agamanya islam, Sebutlah agamaku agama cinta".

Karena rata-rata islam itu di bingkai dalam pengertian mahdloh.

Tidak meluas, tidak melebar ke semua ciptaan tuhan.

Rasulullah dijadikan kekasih oleh allah karena cintanya diekspesikan melayani dan mencintai ciptaan allah.

Maka allah yang mempunyai makhluk, akhirnya jatuh cinta, akhirnya jatuh hati kepada yang melayani.

Cinta adalah lambang tuhan

maka ketika pasrah itu adalah hati-hati.

Kadang-kadang pasrah itu harus mengeburkan hasratmu, hilangkan egomu walau itu mengaburkan semua harapan-harapan mu.

Dan cinta itu punya banyak sayap

diantara sayap-sayap cinta itu kadang terselib pedang yang bisa melukaimu.

Maka ketika padi itu di tumpuk, jangan engkau prasangkai itu menyakiti.

Maka ketika padi itu digiling, jangan engkau prasangkai itu merusak.

Tetapi penggilingan dan penumpukkan itu dalam rangka melepaskan kulit yg berwujud madhmumah (akhlak jelek) yang bersemayam didalam hatimu.

Maka ketika ego itu engkau sangka adalah kehendak hatimu, maka fikirkanlah dengan nuranimu.

Lalu,

Apakah sudah selesai jika engkau di tumpuk didalam mujahadah, didalam ijtihad dan jihad?

Tidak, engkau mesti di cuci dulu.

Apakah sudah selesai?

Tidak juga...

Dalam proses terakhir, engkau harus dibakar lewat api.

Dan setan adalah garis terakhir yang menentukan engkau akan matang dan gosong didalam kehidupan.

Kau mestinya bagai gandum, ditumpuk bukan menyakiti, Tapi melepaskan kulitnya.

Ditumpuk lagi jadi tepung.

Terakhir ketemu lagi dengan api, jadilah persembahan roti untuk kehidupan.

Setiap yang matang bagai roti, matang bagai nasi maka sosok itu bagai mata air yang selalu mengalir, mengalir dan mengalir.

Dan konsep air yg mengalir itu adalah Memberi.

Engkau mesti bagai pohon, karaktermu hanya berbuah dan berbuah.

Produk melulu,

Siapa yg menerima?

kita tidak perlu tau karna ini wujud keikhlasan.

Hidupmu harus mempunyai karya dan kreatifitas sebagai proses pengembangan menerima nikmat, membelanjalakan nikmat sesuai dengan tujuan tuhan.

Mari meletakkan tuhan dan Muhammad sebagai pusat, sebagai sumber dari segala tindakan.

#rumputliar

Post a Comment