Fenomenon Maa Qalam. Fenomena apa yang dipenakan, apakah batas-batas pengetahuan menjadi batas-batas bahasa yang dimiliki?


Manusia memiliki banyak keterbatasan untuk mampu memahami seluruh aspek yang terlibat dalam fenomena. Fenomenon yang bermakna tunggal atau yang telah di-jamak. Keduanya akan selalu utuh dengan fungsi-nya masing-masing. Terlalu banyak informasi tidak selalu membantu dalam memahami fenomena. Sebaliknya, informasi yang terlalu banyak hanya membuat kebingungan.


Ada kalam yang diqalamkan dan qalam yang dikalamkan. Seandainya tidak sama tapi juga tidak berbeda. Jikapun sama maka hal tersebut akan menafi'kan sifat rabb yang maha mengetahui ('alamin).


Pada konteks rohani setiap individu, kalam senantiasa menghampiri namun sering juga diluputkan. Sadarpun belum tentu bisa mendengar kalam, resiko yang diperoleh bisa tersesat (dhaliin) sebab tidak memahami bahasa kalam, dan dimurkai (maghdub) sudah dikasih tau arah jalan harus kemana namun tidak dijalani.


Alam semesta sendiri katanya adalah kalam ilahi yang bertebaran.


Qalam bahkan telah nyata menuliskan dan mengabadikan menjadi fenomena. Layakkah manusia biasa berharap istimewa dengan meminta wahyu ilahi? Mungkinkah mencari dan menetap sendiri dikesepian gua hira?


Butuh pemandu sebab tidak mungkin tetiba sampai dihampiri alam malakat. Momen kesendirian dan kesunyian memiliki peran penting dalam pengembangan diri dengan lebih mendalam.


Merujuk proses awal ketika Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah. Wahyu tersebut datang saat Nabi berada di Gua Hira dalam kesendirian dan kesunyian. Hal ini mengilustrasikan bagaimana kesendirian dapat menjadi saat-saat yang penuh makna dalam pencarian dan pemahaman diri.


Menyoroti ayat pertama dari Surat Al Qalam “Nūn, wal-qalami wa mā yasṭurụn” yang dapat diterjemahkan sebagai “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis”. Ayat tersebut menekankan kebenaran dan kekuatan kata-kata.


Elaborasi ayat-ayat dalam surat Al-'Alaq mengingatkan manusia bahwa ilmu dan pengetahuan berasal dari Allah. Al-Qur’an sendiri adalah hasil pengajaran Allah kepada manusia melalui perantaraan kalam.


Lantas masih mencari apa?


Fenomena ada tampak nyata. Tulisan ini juga nyata tidak memakna lain. Kata-kata eksplisit tetap pada makna sesungguhnya. 


Terpengaruh adalah keterbatasan. Konteks mana yang menjadi tolak ukur pengetahuan. Keduanya kalam atau qalam selalu tersampaikan dan tertuliskan secara nyata. Perlu wadah dan pemancar untuk menampung sinyal-sinyal dan menariknya. Apakah keraguan itu membersihkan untuk menjadi suci atau sebaliknya.


Jika sikap manusia masih ditentukan oleh tindakan orang lain, maka termasuk belum merdeka dari penjajahan opini dan keperpihakan.


Ada rabb yang harus ditempatkan pada posisi kebenaran.


Teringat apa yang pernah saya dengarkan bahwa kesadaran manusia dalam mengambil keputusan sesungguhnya bukan benar-benar keputusan yang ditentukan oleh manusia itu sendiri. Karena secara sadar sebelum manusia mengambil keputusan, otak akan melalui proses tentang keputusan yang akan diambil terlebih dahulu. Kesadaran manusia ketika mengambil keputusan berlaku setelah beberapa detik (7-8 detik jika tidak salah). Lalu darimana keputusan yang diproses otak tersebut berasal?


Kalam atau Qalam tetap menjadi misteri jika diselami dalam konteks ilahi.


Tadabburi dalam konteks apapun, seperti lagu yang dibawakan oleh Tsaqiva semua akan membawakanmu "menjadi manusia". Pentingnya membaca sebagai ikhtiar sehingga mampu menghadirkan keyakinan-keyakinan keilahian.


Pagi ini, kalam masih senantiasa menghampiri dan qalam menuliskannya dalam bentuk ketakutan dan firasat buruk. Jangan tinggalkan ingatan kami duh gusti, lindungilah (ihfadna) duh gusti, dan kasihilah kami dengan bahasamu yang paling mudah kami mengerti. Damai makhluk seluruh alam. Engkau yang maha mendengar, maha cinta, segala puji bagi engkau yang agung nan segalanya.

Post a Comment